Pada hari Jum’at-Sabtu, 31 Juli – 1 Agustus 2015, saya berkesempatan untuk mendaki salah satu gunung di Jawa Tengah. Gunung yang dimaksud adalah Gunung Sumbing yang secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang; Kabupaten Temanggung; dan Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan Wikipedia, Gunung Sumbing adalah gunung api yang terdapat di Jawa Tengah, Indonesia, berdiri tegak setinggi 3.371 meter di atas permukaan laut, dan merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.

Awal Perjalanan

Berdasarkan rencana, saya seharusnya berangkat bersama beberapa rekan saya dalam satu kelompok. Saat hari H keberangkatan, secara tidak terduga salah satu rekan saya memberi kabar bahwasanya mereka tidak jadi ikut mendaki dikarenakan sesuatu hal. Alhasil saya terpaksa berangkat seorang diri dengan barang bawaan “seadanya” di tas saya (nekat? sekali-kali perlu dicoba!).

Saya hanya membawa sebuah tas daypack dengan kapasitas 35 liter. Di dalamnya berisi:

  1. Air minum 3.5 liter
  2. Kompor & Panci
  3. 2 buah gas kaleng
  4. Flysheet + pasak + tali + trekking pole
  5. Matras
  6. Jas Hujan
  7. Emergency blanket
  8. Peralatan makan dan minum
  9. Perbekalan (seadanya)

Menuju Basecamp

Perjalanan saya awali dari Kabupaten Purbalingga pukul 11.00 dan pada awalnya saya ingin menuju ke basecamp Garung yang sudah sangat populer di kalangan pendaki. Di tengah perjalanan, saya dihadang oleh hujan yang cukup deras ketika memasuki Kabupaten Wonosobo, sehingga akhirnya saya terpaksa berteduh dan menggunakan jas hujan yang saya bawa.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan, saya menyadari bahwa saya sudah sampai di Kabupaten Temanggung namun pada saat itu saya belum tau alamat basecamp Garung jadi saya tetap melaju. Sembari memperhatikan jalan, saya melihat sebuah penanda jalan yang menunjukkan basecamp pendakian Gunung Sumbing dan secara otomatis saya mengikuti papan penanda tersebut. Sesampainya di basecamp saya terkejut, ternyata basecamp yang saya sambangi bukanlah basecamp Garung, melainkan basecamp Sipetung yang terletak di Desa Jambu,  Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.

Rute pendakian Sumbing via Sipetung (sumber: Green Grass Adventure)

Sudah terlanjur sampai di basecamp menjadikan saya harus mencoba untuk melewati jalur yang tergolong sepi (waktu itu). Selain karena malas harus mencari basecamp Garung lagi, saya juga tertantang untuk lewat jalur ini. Ditambah lagi dari penjelasan pihak basecamp yang menyatakan bahwa dalam jalur pendakian ada sumber air. Akhirnya saya pun tergiur mencoba jalur Sipetung ini.

Pada jalur Sumbing via Sipetung, terdapat 3 pos utama dan 3 pos bayangan. Satu pos bayangan terletak diantara Pos I dan Pos II dan dua pos bayangan sisanya terletak diantara Pos II dan Pos III.

Di basecamp Sipetung ini, saya disambut dengan hangat dan disuguhi kopi hitam (favorit saya) oleh pihak pengelola basecamp. Kemudian pihak basecamp juga menyatakan bahwa nanti akan ada sekelompok pendaki yang ikut naik. Awalnya saya diminta untuk menunggu mereka, karena saya hanya sendirian. Namun melihat waktu yang sudah cukup sore, saya memutuskan untuk naik sendiri terlebih dahulu, dengan harapan nanti mereka dapat menyusul saya dan kami dapat naik bersama-sama.

Basecamp – Lembah Suci

Perjalanan saya awali pukul 15.00 waktu setempat dari basecamp Sipetung. Sepanjang perjalanan dari basecamp menuju Pos I, kita akan disuguhi dengan jalur yang agak menanjak melewati perkebunan warga. Kemudian sebelum masuk kawasan Perhutani, kita akan disambut oleh sebuah gapura seperti berikut.

Camping Ground Sipetung (dok. pribadi)

Camping ground ini bukanlah Pos I, kita masih harus berjalan sekitar 15 menit untuk sampai di Pos I. Dari penjelasan pihak basecamp, camping ground ini awalnya digunakan sebagai lokasi outbond dan kemah ceria. Disini juga terlihat ada beberapa menara pandang yang terbuat dari kayu. Tidak jauh dari camping ground, kita akan berjumpa dengan Pos I yang ditandai dengan adanya bak penampungan air.

Pos 1 Sumbing via Sipetung (dok. pribadi)

Lokasi Pos I waktu itu sangat luas, namun ditumbuhi oleh rumput liar yang tinggi, sehingga apabila ingin berkemah disini, kita diharuskan untuk meratakannya terlebih dahulu agar lebih nyaman digunakan sebagai tempat istirahat.

Setelah melewati Pos I, kita akan berjumpa dengan pos bayangan yang dinamakan Pos Kyai Santri. Disini tidak ada areal untuk berkemah, namun cukup nyaman digunakan untuk beristirahat sejenak.

Konon katanya, di dekat Pos Kyai Santri terdapat makam yang dikeramatkan warga setempat. Namun lokasi makam tersebut masih jauh dari jalur pendakian dan saya pun tidak mendapati makam yang dimaksud selama perjalanan.

Pos bayangan Kyai Santri (dok. pribadi)
Papan petunjuk pendakian di dekat Pos Kyai Santri (dok. pribadi)

Setelah Pos Kyai Santri, kita akan bertemu dengan Pos II yang disebut Pos Petai Cina. Di Pos II ini memang didominasi oleh pohon petai cina yang berada di sebelah kanan dan kiri jalur. Selain itu, tidak jauh dari Pos II ini kita akan menemukan sebuah sumber air.

Sumber air di dekat Pos 2 (dok. pribadi)
Pos 2 Petai Cina (dok. pribadi)

Lokasi di Pos II waktu itu cukup kecil dan hanya sanggup menampung sekitar 2 atau 3 tenda.

Setelah melewati Pos II, kita akan berjumpa dengan pos bayangan yang dinamakan Lembah Suci. Disini arealnya sangat terbuka dan sangat rawan apabila terjadi hujan, badai ataupun keduanya. Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, saya akhirnya memutuskan untuk beristirahat disini untuk kemudian melanjutkan perjalanan esok pagi.

Pos bayangan Lembah Suci (dok. pribadi)

Selama beristirahat disini, saya berulangkali terbangun karena kedinginan dan hembusan angin yang cukup kencang. Hal tersebut wajar karena saya hanya tidur beratapkan flysheet, beralaskan matras dan berselimutkan sebuah emergency blanket yang sangat tipis. Meski begitu, saya tetap terus mencoba untuk memejamkan mata disini.

Lembah Suci – Puncak

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari dan saya dibangunkan oleh suara berisik dari luar. Setelah mencoba melihat, ternyata suara tersebut berasal dari sekelompok pendaki yang baru saja sampai disini. Akhirnya saya kembali masuk untuk menyiapkan barang dan perlengkapan yang akan saya bawa ke puncak untuk kemudian mendaki dan bergabung bersama kelompok tersebut.

Selama perjalanan summit, kelompok tersebut agak sedikit lambat, sehingga saya memilih untuk mendahului mereka setelah pos bayangan Jalan Setapak.

Pos bayangan Jalan Setapak (dok. pribadi)

Cukup lama berjalan, kemudian sampailah saya di Pos III. Lokasi Pos III disini cukup nyaman karena terlindungi oleh pohon-pohon disekitarnya, namun lokasinya sempit dan hanya sanggup menampung sekitar 4 tenda.

Pos 3 Sumbing via Sipetung (dok. pribadi)

Di ujung timur terlihat Matahari sudah mulai menampakkan warnanya, sehingga dengan terpaksa saya terus melanjutkan perjalanan ke puncak. Namun ternyata perjalanan saya masih sangatlah jauh dan akhirnya saya memilih untuk beristirahat sembari menikmati warna jingga yang perlahan-lahan memperlihatkan keindahan Sindoro di sebelah Utara.

Setelah melewati Pos III, kita akan bergabung dengan jalur Garung. Dari sinilah awal perjalanan baru dimulai, karena sepanjang perjalanan sebelumnya kita disajikan dengan jalur yang lumayan landai, namun setelah disini kita akan bertemu dengan tanjakan yang cukup menyiksa batin dengkul.

Kemudian perlu diperhatikan saat turun, kita harus jeli membedakan percabangan yang akan menuju ke Sipetung. Apabila salah maka bisa saja kita akan terus turun ke jalur Garung.

Matahari terbit ditengah perjalanan (dok. pribadi)
Pemandangan Sindoro dari Sumbing (dok. pribadi)
Pemandangan Sindoro dari Sumbing (dok. pribadi)

Setelah puas menikmati keindahan alam dan juga langit yang semakin cerah, akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju puncak Sumbing. Mendekati puncak, saya bertemu dengan seorang pendaki yang juga tengah naik sendirian. Dia adalah Havid Rusidi yang berasal dari Yogyakarta dan naik lewat jalur Garung.

Sesampainya di puncak, saya tidak bisa banyak mengambil foto karena hembusan angin yang sangat kencang ditambah dengan silaunya cahaya Matahari dari sebelah Timur. Dari atas, saya melihat ada sebuah lokasi yang sangat luas di bawah sana dengan warna putih (pihak basecamp menyebutnya Segara Wedi). Saya sebenarnya tertarik untuk turun, namun karena saya tidak melihat adanya jalan untuk kesana, saya pun mengurungkan niatan tersebut.

Puncak Sumbing 3371 mdpl (dok. pribadi)
Segara Wedi dilihat dari Puncak (dok. pribadi)

Puncak – Basecamp

Waktu pun semakin siang dan akhirnya saya memutuskan untuk turun ke tempat saya berkemah (Lembah Suci-red). Dalam perjalanan turun ternyata saya bertemu dengan kelompok yang sebelumnya saya ikuti, dan ternyata mereka berkemah di Pos III. Setelah saya tanyakan, ternyata mereka sempat salah jalur saat di camping ground, sehingga memperlama waktu tempuh mereka. Ditambah lagi besoknya mereka harus bekerja, maka dari itu mereka memutuskan untuk berkemah di Pos III dan tidak melanjutkan ke puncak.

Spot foto di dekat Pos 3 (dok. pribadi)

Dalam perjalanan turun, saya terpaksa harus beristirahat cukup lama di sekitar pos Jalan Setapak. Saya sempat mual dan muntah disitu (mungkin bisa disebabkan karena kurangnya makanan di lambung ditambah dengan dinginnya udara), kemudian tanpa sadar saya akhirnya tertidur di jalur pendakian.

Pulas tertidur, saya akhirnya terbangun sekitar pukul 11.00 dan langsung turun ke Lembah Suci untuk segera berkemas dan turun ke basecamp. Sesampainya di basecamp, saya langsung masuk dan kembali saya disambut dengan hangat disini. Tak lama menunggu, segelas teh hangat hadir ditambah dengan nasi putih hangat beserta lauknya.

Alhamdulillah, saya bersyukur telah dipilihkan jalan yang tepat oleh Allah SWT. dimana di jalur tersebut saya disambut dengan hangat oleh pihak basecamp.

Kemudian saya pun menanyakan terkait lokasi yang ada di puncak Sumbing yang sangat luas dan berwarna putih (Segara Wedi-red) dan saya pun dijelaskan tentang Segara Wedi yang saking luasnya dapat digunakan untuk bermain bola. Ternyata saat di percabangan puncak, saya salah memilih jalur. Saya memilih jalur ke kanan menuju Puncak Rajawali, sedangkan jika kita ingin ke Segara Wedi, kita harus melalui jalur ke kiri. Nantinya di perjalanan kita akan bertemu dengan makam seseorang.

Setelah berbincang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk pamit sekaligus membayar biaya Simaksi dan parkir. Disini saya terkejut, karena saya hanya diminta untuk membayar Rp 5.000 saja. Sungguh baik sekali pengelola basecamp Sipetung ini, dan saya pun berkata dalam hati, “Jika nanti saya naik ke Sumbing lagi, saya pasti akan lewat sini lagi”.